BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Banyak
penyakit yang dikaitkan secara langsung dengan kebiasaan merokok. Salah satu
yang harus diwaspadai adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) / Chronic
Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Angka kesakitan penderita PPOK laki-laki
mencapai 4%, angka kematian mencapai 6% dan angka kesakitan wanita 2% angka
kematian 4%, umur di atas 45 tahun, (Barnes, 1997).
Angka
kesakitan penderita PPOK laki-laki mencapai 4%, angka kematian mencapai 6% dan
angka kesakitan wanita 2% angka kematian 4%, umur di atas 45 tahun, (Barnes,
1997). Pada tahun 1976 ditemukan 1,5 juta kasus baru, dan tahun 1977 jumlah
kematian oleh karena PPOK sebanyak 45.000, termasuk penyebab kematian di urutan
kelima (Tockman MS., 1985). Menurut National
Health Interview Survey, didapatkan sebanyak 2,5 juta penderita emfisema,
tahun 1986 di Amerika Serikat didapatkan 13,4 juta penderita, dan 30% lebih
memerlukan rawat tinggal di rumah sakit. The
Tecumseh Community Health Study menemukan 66.100 kematian oleh karena PPOK,
merupakan 3% dari seluruh kematian, serta urutan kelima kematian di Amerika
(Muray F.J.,1988). Peneliti lain menyatakan, PPOK merupakan penyebab kematian
ke-5 di Amerika dengan angka kematian sebesar 3,6%, 90% terjadi pada usia di
atas 55 tahun (Redline S, 1991 dikutip dari Amin 1966). Pada tahun 1992 Thoracic Society of the Republic of China
(ROC) menemukan 16% penderita PPOK berumur di atas 40 tahun, pada tahun
1994 menemukan kasus kematian 16,6% per 100.000 populasi serta menduduki
peringkat ke-6 kematian di Taiwan (Perng, 1996 dari Parsuhip, 1998).
Di Indonesia
tidak ditemukan data yang akurat tentang kekerapan PPOK. Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) DEPKES RI 1992 menemukan angka kematian emfisema, bronkitis
kronik dan asma menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering kematian di
Indonesia (Hadiarto, 1998). Survey Penderita PPOK di 17 Puskesmas Jawa Timur
ditemukan angka kesakitan 13,5%, emfisema paru 13,1%, bronkitis kronik 7,7% dan
asma 7,7% (Aji Widjaja 1993). Pada tahun 1997 penderita PPOK yang rawat inap di
RSUP Persahabatan sebanyak 124 (39,7%), sedangkan rawat jalan sebanyak 1837
atau 18,95% (Hadiarto, 1998). Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2003
ditemukan penderita PPOK rawat inap sebanyak 444 (15%), dan rawat jalan 2368
(14%).
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, angka kematian PPOK tahun 2010 diperkirakan
menduduki peringkat ke-4 bahkan dekade mendatang menjadi peringkat ke-Semakin
banyak jumlah batang rokok yang dihisap dan makin lama masa waktu menjadi
perokok, semakin besar risiko dapat mengalami PPOK.
Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menemukan peningkatan konsumsi rokok tahun
1970-1993 sebesar 193% atau menduduki peringkat ke-7 dunia dan menjadi ancaman
bagi para perokok remaja yang mencapai 12,8- 27,7%. Saat ini Indonesia menjadi
salah satu produsen dan konsumen rokok tembakau serta menduduki urutan kelima
setelah negara dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia, yaitu China
mengkonsumsi 1.643 miliar batang rokok per tahun, Amerika Serikat 451 miliar
batang setahun, Jepang 328 miliar batang setahun, Rusia 258 miliar batang
setahun, dan Indonesia 215 miliar batang rokok setahun. Kondisi ini memerlukan
perhatian semua pihak khususnya yang peduli terhadap kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
konsep teori dari emfisema?
2. Bagaimana
asuhan keperawatan pada klien dengan emfisema?
3. Bagaimana
Penyebab dan patofisiologi penyakit yang diderita?
C. Tujuan
Khusus
1. Mengetahui
dan memahami definisi emfisema.
2. Mengetahui
dan memahami etiologi emfisema.
3. Mengetahui
dan memahami patofisiologi emfisema.
4. Mengetahui
dan memahami manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada klien
dengan emfisema.
5. Mengetahui
dan memahami penatalaksanaan klien dengan emfisema.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Emfisema
Empisema adalah suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan
melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang
disertai kerusakan dinding alveolus. (The
American Thorack Society 1962) atau perubahan anatomis parenkim paru yang
ditandai pelebaran dinding alveolus, duktus alveolaris dan destruksi dinding
alveolar.
Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus
menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi. (Kus Irianto.2004.216).
Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal
ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya. (Robbins.1994.253).
Emfisema
adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan
luas permukaan alveoli. (Corwin.2000.435). Emfisema adalah istilah,
progresif-penyakit panjang dari paru-paru yang terutama menyebabkan sesak
napas.(Wikepidia, 2010).
B. Klasifikasi
Terdapat 3 (tiga) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan
yang terjadi dalam paru-paru :
1. Panlobular
(Emfisema Panlobular / PLE)
PLE terjadi akibat kerusakan bronkus
pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus
sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Panlobular
merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang
terletak distal dari bronkhiolus terminalis mengalami pembesaran serta
kerusakan secara merata.
PLE ini mempunyai gambaran khas
yaitu tersebar merata diseluruh paru-paru, ciri khasnya yaitu memiliki
dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan
berat badan. PLE juga ditemukan pada sekelompok kecil penderita emfisema
primer, Tetapi dapat juga dikaitkan dengan emfisema akibat usia tua dan
bronchitis kronik. Penyebab emfisema primer ini tidak diketahui, tetapi telah
diketahui adanya devisiensi enzimalfa 1-antitripsin. Alfa-antitripsin adalah
anti protease. Diperkirakan alfa-antitripsin sangat penting
untuk perlindungan terhadap protease yang terbentuk secara alami (Cherniack dan
cherniack, 1983)
2. Sentrilobular
(CLE)
CLE adalah perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus
sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan
rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan
CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah
kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.
CLE ini secara selektif hanya menyerang bagian bronkhiolus respiratorius.
Dinding-dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung
menjadi satu ruang. Mula-mula duktus alveolaris yang lebih distal dapat
dipertahankan penyakit ini sering kali lebih berat menyerang bagian atas
paru-paru, tapi cenderung menyebar tidak merata. CLE lebih banyak ditemukan
pada pria dibandingkan dengan bronchitis kronik, dan jarang ditemukan pada
mereka yang tidak merokok (Sylvia A.Price 1995).
3.
Emfisema
Paraseptal
Merusak
alveoli lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi blebs (udara dalam
alveoli) sepanjang perifer paru-paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai
sebab dari pneumotorak spontan.
PLE dan
CLE sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya
bula timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkiolus. Pada waktu inspirasi
lumen bronkiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan akibat
penebalan mukosa dan banyaknya mukus. Tetapi sewaktu ekspirasi, lumen
bronkiolus tersebut kembali menyempit, sehingga sumbatan dapat menghalangi
keluarnya udara.
C. Etiologi
Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :
1. Rokok
Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan
pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar,
menyebabkan hipertrofi dan hyperplasia kelenjar mukus bronkus. Secara patologis
rokok berhubungan dengan hyperplasia kelenjar mucus bronkus dan metaplasia
epitel skuamus saluran pernapasan.
2. Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan
emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih
tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap
tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag
alveolar.
3. Infeksi
Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru
lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis
akut dan asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.
4. Genetik
Faktor
genetik mempunyai peran pada penyakit emfisema. Faktor genetik diataranya
adalah atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar
imonoglobulin E (IgE) serum, adanya hiper responsive bronkus, riwayat penyakit
obstruksi paru pada keluarga. Kondisi yang relatif jarang yang dikenal sebagai
kekurangan alpha 1-antitrypsin adalah kekurangan genetik dari kimia yang
melindungi paru dari kerusakan oleh proteases.
5. Hipotesis
Elastase-Anti Elastase
Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim
proteolitik elastase dananti elastase supaya tidak terjadi kerusakan jaringan.
Perubahan keseimbangan menimbulkan jaringan elastik paru rusak. Arsitektur
paruakan berubah dan timbul emfisema.
6. Penuaan
Emphysema adalah juga komponen dari
penuaan (aging). Ketika paru- paru menua, sifat-sifat elastisnya berkurang,
dan tegangan-tegangan yang berkembang dapat berakibat pada area-area yang
kecil dari emphysema.
Penyebab-penyebab yang kurang umum lain dari emphysema
termasuk:
1. Penggunaan
obat intravena dimana beberapa dari additive-additive
yang bukan obat seperti tajin jagung dapat beracun pada jaringan paru.
2. Kekurangan-kekurangan
imun dimana infeksi-infeksi seperti Pneumocystis
jiroveci dapat menyebabkan perubahan-perubahan peradangan dalam paru.
3.
Penyakit-penyakit jaringan penghubung (Ehlers-Danlos Syndrome, Marfan syndrome)
dimana jaringan elastis yang abnormal dalam tubuh dapat menyebabkan kegagalan
alveoli
D. Manifestasi Klinis
Emfisema paru adalah suatu penyakit menahun, terjadi sedikit demi sedikit
bertahun-bertahun. Biasanya mulai pada pasien perokok berumur 15-25 tahun. Pada
umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran nafas kecil dan fungsi
paru. Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun
terjadi sesak nafas, hipoksemia dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun
sudah ada kor-pulmonal, yang dapat menyebabkan kegagalan nafas dan meninggal
dunia. Pada pengkajian fisik didapatkan :
a. Dispnea
b. Pada
inspeksi: bentuk dada burrel chest.
c. Pernapasan
dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori
pernapasan (sternokleidomastoid).
d. Pada
perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.
e. Pada
auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan
ekspirasi.
f. Anoreksia,
penurunan berat badan, dan kelemahan umum.
g. Distensi
vena leher selama ekspirasi.
E. Patofisiologi
Emfisema
merupakan kelainan di mana terjadi kerusakan pada dinding alveolus yang akan
menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara akan tergangu
akibat dari perubahan ini. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya
kekurangan fungsi jaringan paru-paru untuk melakukan pertukaran O2
dan CO2. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat
dari adanya destruksi dinding (septum) di antara alveoli, jalan nafas kolaps
sebagian, dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil. Pada saat
alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan di antara ruang alveolus yang
disebut blebs dan di antara parenkim paru-paru yang disebut bullae.
Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada ‘dead space’ atau
area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. Emfisema juga menyebabkan
destruksi kapiler paru-paru, selanjutnya terjadi penurunan perfusi O2
dan penurunan ventilasi. Emfisema masih dianggap normal jika sesuai dengan
usia, tetapi jika hal ini timbul pada pasien yang berusia muda biasanya
berhubungan dengan bronkhitis dan merokok.
Penyempitan
saluran nafas terjadi pada emfisema paru. Yaitu penyempitan saluran nafas ini
disebabkan elastisitas paru yang berkurang. Penyebab dari elastisitas yang
berkurang yaitu defiensi Alfa 1-anti tripsin. Dimana AAT merupakan suatu
protein yang menetralkan enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada
peradangan dan merusak jaringan paru. Dengan demikian AAT dapat melindungi paru
dari kerusakan jaringan pada enzim proteolitik. Didalam paru terdapat
keseimbangan paru antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya
tidak terjadi kerusakan. Perubahan keseimbangan menimbulkan kerusakan jaringan
elastic paru. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema. Sumber elastase
yang penting adalah pankreas. Asap rokok, polusi, dan infeksi ini menyebabkan
elastase bertambah banyak. Sedang aktifitas system anti elastase menurun yaitu
system alfa- 1 protease inhibator terutama enzim alfa -1 anti tripsin (alfa -1
globulin). Akibatnya tidak ada lagi keseimbangan antara elastase dan anti
elastase dan akan terjadi kerusakan jaringan elastin paru dan menimbulkan
emfisema. Sedangkan pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan
yang menarik jaringan paru keluar yaitu yang disebabkan tekanan intra pleural
dan otot-otot dinding dada dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam
yaitu elastisitas paru.
Pada orang
normal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal, tekanan yang menarik jaringan paru
akan berkurang sehingga saluran nafas bagian bawah paru akan tertutup. Pada
pasien emfisema saluran nafas tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang
tertutup. Cepatnya saluran nafas menutup serta dinding alveoli yang rusak, akan
menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Tergantung pada kerusakannya
dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada akan tetapi perfusi
baik sehingga penyebaran udara pernafasan maupun aliran darah ke alveoli tidak
sama dan merata. Sehingga timbul hipoksia dan sesak nafas.
Emfisema
paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus
yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai
sebagian atau seluruh paru. Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi
akibat dari obstrusi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus
dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari
pemasukannya. Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di
sebelah distal dari alveolus.
F. Komplikasi
a. Sering
mengalami infeksi pada saluran pernafasan
b. Daya tahan
tubuh kurang sempurna
c. Tingkat
kerusakan paru semakin parah
d. Proses
peradangan yang kronis pada saluran nafas
e. Pneumonia
f. Atelaktasis
g. Pneumothoraks
h. Meningkatkan
resiko gagal nafas pada pasien.
G. Pemeriksaan diagnostik
1. Sinar x dada:
dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan
area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema);
peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode
remisi (asma).
2. Tes fungsi
paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah
fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan
derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator.
3. TLC:
peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan
emfisema.
4. Kapasitas
inspirasi: menurun pada emfisema
5. Volume
residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma
6. FEV1/FVC:
rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis
dan asma.
7. GDA:
memperkirakan progresi proses penyakit kronish. Bronkogram: dapat menunjukkan
dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasi kuat
(emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis.
8. JDL dan
diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil
(asma).
9. Kimia darah:
Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema
primer.
10. Sputum:
kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen;
pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
11. EKG: deviasi
aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia atrial
(bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis,
emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema)
12. EKG latihan,
tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi.
H. Penatalaksanaan Medis
1. Bronkodilator
Bronchodilators digunakan untuk mengendurkan otot-otot halus yang
mengelilingi bronchioles dan mengizinkan tabung-tabung pernapasan untuk
melebar/membesar dan mengizinkan lebih banyak aliran udara. Obat-obat ini dapat
dihirup menggunakan MDI (metered dose inhaler), powder inhaler devices,
atau nebulizer machine. Obat-obat ini
dapat bekerja jangka pendek atau panjang. Baru-baru ini, propellant (bahan pembakar)
untuk MDIs , chlorofluorocarbons (CFCs)
telah dihilangkandari pasar karena efek dari agen-agen ini pada lapisan ozone diatmosphere. Propellants ini
telah digantikan dengan hydrofluoric alkanes (HFAs).
Bronchodilators yang bekerja singkat termasuk agen-agen albuterol (Ventolin
HFA, Proventil HFA, dan Pro Air) dan agen anticholinergic, ipratropium bromide
(Atrovent).
Sebagai sampingan, dahulu pasien - pasien telah diinstruksikan
untuk menghitung jumlah dari tiupan-tiupan yang digunakan dari alat-alat
ini atau "mengapungkan" penghirup dalam air untuk menentukan jumlah
obat tersisa yang tersedia. Alat-alat HFA tidak dapat diapungkan, dan
menghitung jumlah dari tiupan-tiupan adalah metode satu-satunya yang tersedia
untuk menentukan kehadiran yang terus menerus dari obat. Satu alat, Ventolin
HFA, mempunyai penghitung didalamnya. Adalah penting untuk mengerti bahwa
kehadiran semata-mata dari propellant yang datang dari penghirup tidak perlu
berarti bahwa obatnya hadir.
Agen-agen yang bekerja lama termasuk salmeterol (Serevent), formoterol
(Foradil) dan tiotropium (Spiriva). Sering bronchodilator yang bekerja
lama digunakan untuk mengontrol gejala-gejala dari emphysema sebagai terapi
pemeliharaan, dan yang bekerja singkat digunakan ketika gejala-gejala menyala
atau timbul (terapi pertolongan). Adalah penting bahwa pasien mengetahui
obat mana yang diresepkan, karena penghirup- penghirup (inhalers) yang
bekerja lama tidak dapat digunakan untuk pertolongan karena
timbulnya aksi yang tertunda.
2. Terapi
Aerosol
Aerosolisasi dari bronkodilator
salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi.
Aerosol yang dinebuliser menghilangkan brokospasme, menurunkan edema mukosa,
dan mengencerkan sekresi bronchial. Hal ini memudahkan proses pembersihan
bronkiolus, membantu mengendalikan prosesi nflamasi, dan memperbaiki fungsi
ventilasi.
3. Pengobatan
Infeksi
Pasien dengan emfisema rentan
terjadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi.
Terapi antimikroba dengan tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin, atau
trimetroprim-sulfametoxazol biasanya diresepkan.
4. Kortikosteroid
Digunakan setelah tindakan lain
untuk melebarkan bronkiolus dan membuang sekresi. Prednison biasanya
diresepkan. Karena kebanyakan pasien-pasien tidak mempunyai emphysema yang
murni dan biasanya juga mempunyai
komponen-komponen lain dari COPD, terapi yang digabungkan seringkali diresepkan
yang termasuk bronchodilator yang bekerja lama dan corticosteroid yang
dihirup.
Kortikosteroid yang dihirup atau inhaled corticosteroid (ICS) membantu menekan komponen-komponen
yang meradang dari COPD. Agen-agen ini seperti Advair, yang adalah campuran
dari salmeterol (Serevent) dan fluticasone (Flovent), ICS, lebih jauh
menyederhanakan perawatan ke alat penghirup tunggal. Studi-studi telah
dilakukan di Eropa pada agen yang serupa, Symbicort (kombinasi dari
formoterol (Foradil) dan budesonide (Pulmicort), ICS yang lain), dan sekarang
ini dalam perjalanan di Amerika.
Banyak pasien-pasien dengan
emphysema perlu hanya meminum steroids ketika gejala-gejalanya menyala
(timbul), namun yang lain-lainmemerlukan terapi harian. Corticosteroids
mempunyai aksi yang langsung pada jaringan paru. Penyerapan kedalam aliran
darah adalah minimal. Prednisone, corticosteroid oral, dapat diminum sebagai tambahan
padasteroid yang dihirup jika lebih jauh efek-efek anti peradangan diperlukan.
Pada situasi-situasi darurat, corticosteroids mungkin disuntikan
secaraintravena.
5. Oksigenasi
Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan
emfisema berat. Ketika penyakit berlanjut, pasien-pasien mungkin memerlukan
suplemen oksigen untuk mampu berfungsi. Seringkali ia mulai dengan penggunaan
malam hari, kemudian dengan latihan/olahraga, dan ketika penyakit memburuk,
keperluan untuk menggunakan oksigen selama seharian untuk aktivitas-aktivitas
rutin meningkat.
DAFTAR
PUSTAKA
Baughman,D.C&
Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001
Mills,John&
Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru.Jakarta : EGC
Perhimpunan
Dokter Sepesialis Penyakit Dalam Indonesia. Editor Kepela : Prof.Dr.H.Slamet
Suryono Spd,KE
Soemarto,R.1994.
Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya : RSUD Dr.Soetomo






0 Comments:
Posting Komentar